CERPEN : PGRI JAKSEL PUNYA WEBSITE

Pagi itu langit Jakarta Selatan cerah, seolah ikut menyambut semangat baru yang mulai tumbuh di halaman SMK Muhammadiyah 9. Di ruang laboratorium komputer yang sederhana namun hangat, beberapa guru duduk berjajar rapi dengan laptop/komputer di hadapan mereka. Wajah-wajah penuh rasa ingin tahu menyambut kedatangan seseorang yang telah lama dikenal di lingkungan PGRI: Kak Aye.

“Selamat pagi, Bapak Ibu Guru hebat!” sapa Kak Aye dengan suara lantang dan senyum penuh semangat. “Hari ini kita akan belajar sesuatu yang mungkin terasa asing, tapi sangat penting—cara mempublikasikan berita di website PGRI Jakarta Selatan.”

Sebagian guru tersenyum, sebagian lagi terlihat ragu. “Posting berita? Saya belum pernah,” bisik Bu Tuti, guru Bahasa Indonesia dari Kebayoran Lama.

Namun Kak Aye bukan orang baru dalam pelatihan seperti ini. Ia tahu, kunci dari perubahan bukanlah keahlian teknis semata, melainkan rasa percaya diri yang dibangun pelan-pelan. Maka ia memulai sesi dengan sederhana—mengajak semua membuka laptop, lalu mengetik alamat website:
www.pgrijakartaselatan.or.id

“Sekarang, silakan login menggunakan username dan password yang sudah dibagikan,” lanjutnya. Suasana perlahan berubah. Gemerisik ketikan mulai terdengar, dan satu per satu guru berhasil masuk ke halaman dashboard website.

“Langkah selanjutnya,” ujar Kak Aye sambil menampilkan layar contoh di proyektor, “Masukkan judul berita. Jangan lupa unggah foto utama, pilih kategori sesuai kecamatan, dan tulis isi berita sesuai kegiatan yang ingin dibagikan.”

Bu Tuti mengangkat tangan, “Kalau tulisannya belum panjang, boleh dipublikasikan?”

“Boleh sekali. Yang penting tulus, jujur, dan informatif,” jawab Kak Aye. “Tugas kita bukan jadi wartawan. Tapi jadi penyampai kabar baik dari dunia pendidikan.”

Beberapa guru mulai tersenyum lebar. Untuk pertama kalinya, mereka merasa bisa. Bisa menulis. Bisa berbagi. Bisa mengabarkan hal-hal baik dari sekolah masing-masing.

Dan saat tombol “Publish” diklik untuk pertama kali oleh seorang guru dari Pesanggrahan, seluruh ruangan serentak bertepuk tangan. Itu bukan sekadar postingan. Itu adalah titik awal dari perubahan besar.


Sore harinya, saat pelatihan usai, Kak Aye menutup dengan kalimat yang membuat semua peserta terdiam sejenak:

“Setiap klik yang Bapak Ibu lakukan hari ini bukan hanya soal teknologi. Itu adalah cara kita menjaga martabat pendidikan. Suara guru harus terdengar, dan dunia digital adalah panggung baru kita.”

Di luar, senja mulai turun perlahan. Tapi di dalam hati para guru, cahaya baru justru sedang menyala.


Pesan Cerita:
Dengan semangat belajar dan keberanian mencoba, para guru PGRI Jakarta Selatan membuktikan bahwa mereka siap melangkah ke dunia digital. Karena pendidikan tak pernah berhenti, dan guru adalah pelita yang tak pernah padam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *